Selasa, 28 Agustus 2012

CARA MEMPERBANYAK AIR SUSU/ASI

Agar Air Susu Ibu Bertambah banyak
http://www.seksualitas.net/wp-content/uploads/2012/01/ppsbanner3.gif
Jika anda seorang wanita yang baru saja melahirkan dan ingin memperbanyak air susu untuk bayi anda, anda bisa mencoba resep kami ini.
Ambillah segenggam daun nangkah yag masih muda (jangan sampai ada yang pecah).
Setelah dicuci bersih, maka uapkanlah daun itu sampai layu, tumbuklah daun nangka itu sampai lembut. Bubuhilah air sedikit kemudian peraslah dan ambillah airnya, bubuhilah air perasan itu dengan gula atau garam secukupnya lalu diminum.
Selain cara di atas ada cara lain yaitu daun nangka yang telah diuapkan itu dimakan dengan sambal sebagai lalap waktu makan nasi. Dengan begitu Insya Allah air susu anda akan menjadi banyak.

Tips Memperbanyak Asi

Jumat, 14 Oktober 2011 | Nutrisi Ibu dan Balita
Menyusui merupakan cara paling mudah bagi Bunda dalam memberikan perlindungan yang optimal kepada sang buah hati, karena ASI mengandung komposisi nutrisi yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan bayi. Hal ini juga bisa membantu mempererat ikatan batin antara Bunda dengan si kecil. Sayangnya, tidak semua ibu bisa memberikan ASI yang cukup bagi bayinya. Karena itu, tidak sedikit dari Bunda yang masih sering bertanya-tanya tentang cara memperbanyak ASI bagi si kecil. Terutama bagi Bunda yang baru pertama kali menyusui bayinya.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan Bunda untuk memperbanyak ASI, dan sudah teruji kebenarannya, yaitu:
• Menyusui bayi segera setelah melahirkan (Inisiasi Menyusui Dini/IMD)
• Meningkatkan frekuensi menyusui, yaitu setiap dua jam sekali atau setiap bayi merasa lapar dan haus
• Mengonsumsi banyak cairan
• Mengasup cukup kalori
• Istirahat yang cukup

Inisiasi menyusui dini, selain bisa membantu memperbanyak ASI, namun juga memberikan hak kepada bayi untuk bisa menikmati kolostrum dari ASI. Kolostrum adalah ASI yang keluar pertama kali dari payudara Bunda dan berwarna kekuningan. Kandungan nutrisi dalam kolostrum ini bersifat sempurna sebagai pelindung dan peningkat daya tahan tubuh atau imunitas bayi.
Meningkatkan frekuensi menyusui, merupakan salah satu cara memperbanyak ASI, yang kurang dipahami oleh para ibu. Banyaknya produksi ASI bergantung pada banyaknya permintaan ASI dari si kecil. Cobalah untuk menyusui bayi lebih sering, dan buktikan bagaimana produksi ASI akan meningkat. Dengan kata lain, menyusui bayi dapat merangsang tubuh memproduksi ASI sebanyak yang dibutuhkan.
Dari sudut pandang gizi, cara memperbanyak ASI adalah dengan minum cukup cairan. Jenis cairan yang diminum boleh dari susu, air, bahkan jus buah. Dianjurkan ibu menyusui minum cairan sebanyak 2-3 liter per hari. Menurut Dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K), Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM, ibu menyusui membutuhkan asupan cairan tambahan untuk mencegah resiko terjadinya kekurangan cairan atau dehidrasi. Setidaknya, sebanyak 3,1 liter cairan harus diasup ibu menyusui setiap harinya. Saran umumnya, minum segelas air setiap makan, dan setiap kali menyusui.
Asupan kalori lebih banyak dibutuhkan Bunda untuk dapat memproduksi ASI dengan optimal bagi si Kecil. Atur tambahan makanan sehingga ada kalori ekstra sebesar 500 kalori. Disarankan Bunda tidak melakukan diet penurunan berat badan, karena akan mempengaruhi produksi ASI. Asupan nutrisi yang cukup juga merupakan cara memperbanyak ASI yang sehat untuk si kecil.
Selain asupan nutrisi yang cukup, istirahat yang cukup juga dapat menghindarkan Bunda dari kemungkinan stres, yang bisa membuat produksi ASI berkurang. Bahkan, tindakan ini merupakan cara ampuh memperbanyak ASI. Jika sulit beristirahat karena sibuk mengurus si kecil, mintalah bantuan suami, anggota keluarga, atau pengasuh untuk menggantikan tugas pengasuhan sementara Bunda beristirahat.
Jadi, tidak sulit, kan, cara untuk memperbanyak ASI? Jadi, tidak ada lagi alasan untuk tidak memberikan ASI pada si kecil agar optimal pertumbuhan fisiknya, sempurna perkembangan kecerdasannya, dan baik perkembangan psikologisnya. Karena dengan menyusui, berarti Bunda sudah membantu si kecil meraih masa depannya yang lebih cemerlang.

Ibu Menyusui: Masa Postpartum Perbanyak ASI

04-11-2011 diposkan oleh melindacare

Ibu Menyusui: Masa Postpartum Perbanyak ASI      Ibu menyusui di masa postpartum sangatlah penting bagi buah hati terutama dalam memberikan ASI. Bayi yang baru lahir perlu diberikan ASI karena penting demi kekebalan tubuh dan pertumbuhannya di usianya yang baru hingga bulan-bulan berikutnya.
      Ibu menyusui lebih memberikan perlindungan khusus yang optimal bagi si kecil, karena kandungan ASI yang lengkap memiliki komposisi nutrisi untuk memenuhi kebutuhan bayi. Selain itu, adanya ikatan batin antara ibu dan buah hati akan selalu memperat hubungan keduanya. Namun, sangat disayangkan karena tidak semua ibu bisa memberikan ASI yang cukup pada buah hatinya. Bahkan, ada pula yang juga tidak bisa menyusui sama sekali karena ASI yang tidak bisa keluar.
      Masih banyak sebagian ibu lainnya yang memang tidak bisa menyusui karena kurangnya ASI yang keluar bagi buah hatinya. Dan tidak sedikit pula para ibu bertanya-tanya tentang bagaimana cara memperbanyak ASI, terutama bagi ibu yang baru pertama kali menyusui.
Namun, jangan khawatir bagi para ibu yang belum bisa mengeluarkan banyak ASI. Terdapat beberapa cara untuk ibu bisa melakukan memperbanyak ASI, dan hasil tersebut telah teruji kebenarannya. Berikut caranya :
  1. Segera mungkin setelah bayi lahir untuk ibu menyusui si kecil. Ini dinamakan Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
  2. Ibu perlu meningkatkan frekuensi menyusui. Ini dilakukan setiap dua jam sekali atau setiap bayi memberikan tangisan pertanda ia lapar dan haus.
  3. Perbanyaklah minum air, jus dan cairan yang baik untuk tubuh.
  4. Mengkonsumsi berbagai makanan dan minuman yang bergizi, cukup kalori dan bernutrisi.
  5. Ibu harus cukup banyak istirahat.
Dengan ibu memberikan IMD, maka hal tersebut dapat membantu untuk memperbanyak ASI serta bermanfaat juga bagi si kecil untuk mendapatkan kolostrum dari ASI. Kolostrum yang keluar pertama kali dari payudara ini berwarna kekuningan dan kandungan nutrisi didalamnya sangat sempurna sebagai pelindung serta meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh pada bayi.
Banyak para ibu yang belum mengetahui dalam meningkatkan frekuensi menyusui dapat membantu memperbanyak ASI mereka. Perlu Anda ketahui, bahwa dengan banyaknya produksi ASI maka bergantung juga banyaknya permintaan ASI dari bayi. Ibu menyusui harus dilakukan secara sering, mengingat produksi ASI akan terus meningkat. Dengan begitu, ibu menyusui akan merangsang tubuh untuk memproduksi ASI sebanyak yang dibutuhkan bayi.
Jika dipandang dari segi gizi, ibu yang banyak mengkonsumsi cukup cairan akan membantu meningkatkan banyaknya ASI. Pilihan jenis minumannya pun bisa jus buah, susu, dan juga air putih. Berdasarkan anjuran, ibu menyusui diharuskan minum baik itu jenis apapun cairannya, minumlah sebanyak 2-3 liter per hari. Salah seorang Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM, Dr, Budi Iman Santoso mengungkapkan, bahwa ibu menyusui membutuhkan asupan cairan tambahan untuk mencegah resiko terjadinya kekurangan cairan atau dehidrasi. Setidaknya, sebanyak 3,1 liter cairan harus diasup ibu menyusui setiap harinya. Tambahan saran hal umumnya, jangan malas untuk tetap minum segelas air setiap kali setelah makan, dan juga setiap ibu menyusui.
Mon, 20/04/2009 - 12:11am — godam64
Wanita yang telah melahirkan anak sangat dianjurkan untuk memberikan air susu yang berasal dari tubuh si ibu karena air susu ibu sangat diperlukan bagi bayi yang baru lahir hingga usia tertentu. ASI yang merupakan singkatan dari air susu ibu bermanfaat untuk menurunkan antibodi, memberikan makanan, memberi minum dan lain-lain kepada bayi. Untuk itu ibu menyusui sebaiknya mengkonsumsi makanan yang dapat memperlancar air susunya.
Berikut ini adalah beberapa jenis bahan makanan yang membantu perempuan yang baru menjadi ibu, agar produksi air susu ibu meningkat dan lancar hingga si buah hati cukup bisa makan makanan non asi serta makanan lain yang bagus untuk ibu menyusui.
1. Daun Katuk
Mengandung vitamin A, C, B1, zat besi, kalium, protein, fosfor, sterol, alkaloid, asam seskuiterna. Dipercaya sayuran daun katuk bisa membantu meningkatkan air susu ibu mama yang cukup signifikan.
2. Bunga Pepaya
Mengandung vitamin A, C, fosfor, kalium, enzim papain. Sangat baik untuk membantu meningkatkan protein dalam tubuh ibu serta meningkatkan selera nafsu makan.
3. Bayam Hijau dan Bayam Merah
Mengandung vitamin A, B6, C, E, K, asam folat, riboflavin, fosfor, kalium, protein, zat besi, karoten, thiamin. Bayam yang berwarna merah dan ijo tua baik untuk membantu menurunkan sistem kekebalan yang baik bagi bayi.
4. Kedelai Jepang (Edamame)
Mengandung vitamin C, K, zat besi, magnesium, riboflavin, protein, mangan, kalium, fosfor. Kedele jepang alias edamame sangat bagus karena kaya protein yang dapat menggantikan makan ikan, ayam, daging, dan protein hewani lainnya.
5. Kacang Hijau
Kacang ijo mengandung Vitamin B1, protein, fosfor, tiamin, mangan, kalium, magnesium, asam folat. Kacang hijau membantu mencukupi kebutuhan protein dan energi.
6. Pare
Mengandung vitamin K, likopen, fitokimia lutein, anti oksidan yang sangat baguna untuk merangsang produksi insulin, menurunkan kadar gula di dalam darah, anti kanker, dan lain sebagainya.
7. Buah Jambu Air
Mengandung vitamin A, C, zat besi, fosfor, kalium. Memberi manfaat seperti membantu melindungi sistem kekebalan tubuh, membuat lebih tahan infeksi, meningkatkan fungsi syaraf serta otot.
8. Semangka
Mengandung vitamin A, C, asam folat, kalium. Buah semangka segar sangat baik untuk mencukupi kebutuhan vitamin A sang ibu menyusui serta kebutuhan air.
9. Labu Siam
Mengandung vitamin B6, C, K, asam folat, kalium, magnesium, zinc, mangan. Labu siam dapat membantu mencukupi kebutuhan asam folat ibu yang sedang menyusui karena ketika memberi susu membutuhkan asam folat yang cukup banyak. Labu siam juga mampu membantu pertumbuhan sel dan juga perkembangan/pertumbuhan tubuh sang buah hati.
10. Buah Pepaya
mengandung vitamin A, C, kalium, asam folat. Sangat baik untuk menjaga asupan kalium bagi ibu menyusui agar tidak mudah capek / lelah.
Sekian terima kasih, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Minggu, 19 Agustus 2012

ARTIKEL DINAMIKA DI DALAM MASJID



DINAMIKA DI DALAM MASJID
(Sebuah Upaya Mengembalikan Supremasi Masjid Sebagai Sentra Peradaban)

MAHFUD, S.Pd
&
HAQQUL AMIN, S.Pd
           
Dalam kehidupan bemasyarakat dan berkaitan dengan kelompok-kelompok sosial  (social group), dinamika adalah hal yang niscaya terjadi. Dinamika adalah suatu gejala yang umum dan wajar terjadi sebagai akibat adanya interaksi antar anggota kelompok dalam masyarakat untuk menemukan formulasi ideal dalam membangun tatanan interaksional yang humanis dan bermartabat di antara mereka. Manakala dinamika berlangsung di dalam masjid, maka menjadi tidak lazim. Mengingat masjid adalah wilayah otoritas khusus yang diperuntukkan sebagai tempat ibadah. Dan berbicara mengenai ibadah maka standarisasi konseptual dan operasionalnya sudah paten dan permanen berdasarkan dua rujukan utama Al-Qur’an dan As-Sunnah, tidak boleh ditambah maupun dikurangi, karena penambahan atau pengurangan terhadap sesuatu yang telah sempurna justeru akan merusak kesempurnaannya.
            Itulah sebabnya mengapa konsep tradisional dan modern tidak boleh didekatkan dengan masjid, karena akan merendahkan nilai-nilai islam sebagai wahyu yang telah paripurna. Konteks tradisional dan modern adalah tahapan perkembangan kebudayaan masyarakat manusia dalam proses perubahan sosial (social change) akibat adanya proses social planning dan social engginering, sementara islam sebagai sebuah kompleksitas ajaran sudah dijamin kesempurnaannya oleh Allah yang maha mengetahui melalui firman-Nya: “Hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu dan telah kucukupkan nikmatku kepadamu, telah kuridhai Islam sebagai agama bagimu” (Al-Maidah:3)
            Singkatnya, dinamika dalam arti mereformulasi aturan-aturan hidup, identik dengan ranah sosial serta berada dalam bingkai sosiologis, dan menjadi tidak lazim dalam kontek ibadah. Mengutak-atik diktum peribadatan berarti menggugat otoritas Rasulullah SAW dan bahkan otoritas Allah SWT.
Mengapa ada dinamika di dalam masjid?
            Masjid adalah ikon keislaman komunitas muslim, sampai-sampai para ulama menjadikan keberadaan masjid sebagai barometer utama. Adanya masjid di suatu tempat menunjukkan keberadaan ummat islam di tempat itu. Dengan demikian masjid dengan seluruh proses yang berlangsung di dalamnya berada dalam wilayah peribadatan yang seluruh format operasionalnya telah baku, sehingga upaya mencari-cari ide baru dan mencoba segala macam eksperimen tidak pernah akan bisa memperbaiki keadaan, malah merusaknya.
            Akhir-akhir ini dalam kalangan ummat islam timbul pemikiran tentang modernisasi dan pembaharuan nilai-nilai islam yang dimotori oleh kelompok islam liberal (JIL) yang mencoba mengkolaborasi nilai-nilai demokrasi sebagai sebuah budaya dengan nilai-nilai islam sebagai wahyu. Virus ini sadar tidak sadar telah merasuk ke dalam kalangan ummat, ditambah dengan minimnya kompetensi keilmuan mayoritas ummat terhadap dua sumber primer ajaran islam itu tadi, maka upaya mengembalikan status masjid ke khittahnya yang agung menjadi hal yang tidak sederhana. Perpaduan antara minimnya ilmu tentang syariat dan kelatahan mengadopsi nilai-nilai dari luar islam yang menjalar begitu sporadis dalam tubuh ummat, telah melahirkan dinamika negatif di dalam masjid, padahal ia harus steril dari hal-hal yang demikian.
            Fungsi utama masjid adalah sebagai sentra aktifitas ibadah terpenting dalam islam, yaitu sholat berjamaah. Sholat berjamaah memiliki peran seterategis yang tidak tertandingi dalam proses membangun pradaban masyarakt madani, bahkan kekuatan utama ummat islam bisa diukur dengan kualitas sholat berjamaah. Dalam konsepsi berjamaah inilah peran seorang imam menjadi sangat urgen. Ia adalah asset paling vital dalam upaya peningkatan kualitas ummat islam, bukan saja ibadah ritualnya, akan tetapi terhadap keseluruhan aspek kehidupan mereka.
            Keberadaan imam dan makmum adalah gambaran stratifikasi yang esensi dan berbeda dengan statifikasi sosial yang umum di dalam masyarakat. Stratifikasi  sebagai gejala sosial yang umum, selalu ada dalam masyarakat yang selalu menilai dan menghargai tinggi sesuatu. Sesuatu yang dimaksud menurut pakar Sosiologi Soerjono Soekanto meliputi; kekuasaan atau jabatan, kekayaan, ilmu pengetahuan, dan kehormatan. Keempat kriteria tersebut sering dijadikan oleh seseorang untuk menentukan status sosial (gengsi) dengan berusaha menempati strata atas dari tiap-tiap kriteria. Sehingga orang akan berlomba-lomba untuk mengejar keempat kriteria tersebut diatas, hatta dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dan melanggar kaidah etika dan syariat.
            Lebih lanjut ia menjelaskan, dari keempat kriteria tersebut, khususnya kriteria kehormatan, tidak terkait dan berbeda dengan tiga kriteria yang lainnya. Karena kekuasaan, kekayaan dan ilmu pengetahuan saling terkait satu dengan yang lainnya. Orang yang menempati strata atas dari kriteria kekuasaan misalnya akan lebih gampang mencari kekayaan dan meraih gelar kesarjanaan sebagai simbol kepemilikan ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan kriteria kekayaan, orang yang sudah kaya (menempati starata atas) lebih gampang memiliki kekuasaan dan memiliki gelar kesarjanaan walaupun dengan cara-cara yang tidak wajar. Sementara  kehormatan adalah kriteria yang tidak terkait dengan ketiganya. Siapa yang menempati strata tertinggi dimasyarakat dalam kriteria ini? mereka adalah orang-orang yang memiliki ketokohan dan kharisma, semisal tokoh agama,  sebagai akibat dari kelebihan ilmu yang mereka miliki ditambah dengan kesalehan dalam beribadah dan berinteraksi. Status sosial yang dimiliki oleh orang-orang yang memiliki kriteria ini bersifat assigned status (status yang diberikan oleh orang banyak karena penghargaan dan penghormatan keilmuan dan kesalehannya). Sementara orang orang yang menempati strata atas dari tiga kriteria lainnya memiliki status sosial yang bersifat achieved status (status yang sengaja dikejar untuk tujuan-tujuan tertentu, yang biasanya untuk gengsi dan status sosial)
            Inilah kenyataan yang ada sekarang, orang beramai-ramai mengejar dan meraih keempat kriteria tersebut di atas untuk menokohkan dirinya, dan bukannya ditokohkan oleh orang banyak. Walaupun ia boleh memasuki ranah formal dengan mengantongi SK pengangkatan sebagi imam masjid, tapi itu tidak lebih hanya sekedar untuk kebutuhan administratif, dan dua faktor filosofis dibalik itu harus dikedepankan, yaitu;  bagaimana mekanisme SK itu didapat, dan  bagaimana SK itu dijalankan. Keduanya mutlak berada dalam wilayah syariat dan bebas dari intrik politik dan unsur rekayasa, serta tidak boleh ditawar-tawar dengan ayat-ayat demokrasi semisal voting, pengerahan massa, penggalangan tanda tangan, black campaign, hingga memanfaatkan media massa sebagai sarana perang urat syaraf dan menggiring opini publik untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Karena yang terjadi kemudian adalah konflik-konflik kepentingan, mengingat proses demokrasi selalu melibatkan dua fihak; menang dan kalah. Yang menang menepuk dada dan yang kalah mencari kambing hitam.
            Dari kondisi tersebut di atas tidak mengherankan jika masjid berdinamika, dalam masjid timbul kelompok-kelompok kepentingan, jamaah tandingan yang mengidentifikasikan dirinya dengan “kami” dan “kita” (in-group), dan kelompok-kelompok yang diidentifikasi sebagai lawan dengan artifisial “mereka” (out-group). Dua kelompok ini tidak akan pernah bisa berjamaah secara secara substantif, hanya berjamaah simbolik, sehingga ia menjadi bahaya laten bagi kelangsungan dan kemakmuran sebuah masjid.
            Oleh karena itu mata rantai ini harus diputus dengan sebuah wayout yang obyektif, yaitu dengan merujuk kepada dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang berhubungan dengan permasalahan ini. Itulah starting point  terpenting sebagai landasan epistimologis bagi ummat untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada sebagaimana disinyalir dalam firman-Nya “….Dan apabila kalian berselisih faham terhadap sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir....(An-Nisa:59)
            Dari sumber-sumber yang melimpah dan mudah diakses kita bisa menggarisbawahi dua dimensi esensial yang mendiskripsikan benang merah antara kemajuan masjid dengan kemajuan ummat, yaitu dimensi ubudiyah dan dimensi ukhuwah.
Dimensi Ubudiyah
            Inilah dimensi yang akan mengawal seluruh aktifitas individual dan kolektif dalam masjid. Kehadiran kita di dalam masjid harus secara totalitas dimaknai penyembahan. Yang disembah adalah Rabb yang merajai langit dan bumi, Raja diraja yang agung. Seluruh entitas selain Dia, adalah kecil, lemah dan dependen, termasuk diri kita sendiri. Implikasi dari dimensi penyembahan adalah leburnya kesombongan pada diri si hamba.
            Kesombongan (al-kibr) dalam perspektif Rasulullah adalah kecenderungan menolak kebenaran (batrul haq) dan merendahkan orang lain. Batrul haq artinya ia enggan tunduk kepada dalil yang shohih. Menentang dalil yang syar’i dan mendahulukan akal, perasaan dan hawa nafsu. Sedangkan merendahkan orang lain bemakna egosentrisme, megalomania (merasa diri paling hebat), dan selalu benar. Sehingga apa yang datang dari orang lain pasti salah, tidak penting ada dalil atau tidak, hanya ingin didengar dan tidak mau mendengar, memakai mulut dan tidak memfungsikan telinga, arogan, sok, semena-mena, dan feodalistik. Dua sisi al-kibr itu saling terkait, artinya bila seseorang tunduk dan patuh (taslim) kepada dalil maka akan menjadi rendah hati (tawadhu’), dan menghargai sesama, toleran dan akomodatif, demikian juga sebaliknya.
            Ketika potensi kesombongan mampu kita tekan ke titik nol, maka barulah esensi penyembahan itu bermakna dan berpotensi nilai pahala. Sebelum memasuki masjid, maka seseorang harus melebur dulu ego dan megalomanianya. Ia harus mencuci habis ambisi-ambisi dan interest pribadinya akan gula-gula dunia dalam bentuk kedudukan/jabatan, penghormatan, gengsi sosial, apalagi uang. Ketika orang-orang dalam masjid masih terjangkit virus ini, maka jangan heran bila masjid menjadi ajang konfrontasi, perang dingin, hingga adu jotos.
            Pada dimensi itulah orang-orang masuk masjid tidak lagi ingin merendahkan dirinya dalam penyembahan, padahal itulah misi utama keberadaan seseorang dalam masjid, sebagaimanan firman-Nya “Dan sesungguhnya masjid itu adalah untuk Allah, maka janganlah kamu menyembah apapun di dalamnya, selain Allah” (Al-Jin:18). Allah tidak lagi menjadi Maha besar, ada sesuatu yang lain yang dianggap menyaingi kebesaran Allah bahkan mengalahkannya. Kesombongan benar-benar merusak pelakunya dan seluruh sistem di sekitarnya, pantaslah Iblis, Fir’aun, orang-orang Yahudi dan para bala tentara kesombongan mendapat laknat dari Allah. Na’udzubillah.
Dimensi Ukhuwah
Inilah dimensi yang menjadi sumber energi potensial ummat untuk merekatkan seluruh piranti yang berserakan dalam diri tiap pribadi muslim sebagai sub-sistem menjadi seluruh sistem yang kokoh ”Masyarakat muslim ibarat sebuah tubuh, bila merasa sakit salah satu bagian, maka akan ikut dirasakan oleh seluruh bagian tubuh yang lainnya”. Demikian sebuah statemen yang amat progresif dari Rasulullah SAW. Lebih lanjut beliau SAW memberi warning yang amat tegas kepada orang-orang yang alpa dari sholat berjamaah dengan mengatakan “Aku akan menyuruh salah seorang dari kalian untuk mengimami sholat, lalu aku dan beberapa orang akan keluar membakar rumah-rumah mereka”. Sejarah tidak mencatat satupun rumah sahabat yang dieksekusi, karena mereka menyadari dan merasakan manfaat sholat berjamaah dalam dimensi ubudiyah (hablum min-Allah) dan dimensi ukhuwah (hablum minannas).
            Dalam dimensi hablum minannas tersebut, konsepsi egaliter ditumbuhkan, kesetaraan menjadi hal yang kasat mata di sana, yaitu ketika seluruh status sosial lepas tanggal, terwujud dalam rapat dan lurusnya shaf mereka. Shaf yang teratur dan rapi menghapus seluruh sekat, selain itu ritme gerak tubuh dan jiwa mereka juga satu, serempak dan kompak dibawah komando sang imam.
            Nyata dalam sholat berjamaah pola interaksi iman dan makmum, dan antra makmum dengan makmum yang lainnya. Konsepsi loyalitas masyarakat (makmum) dan keadilan pemimpin (imam). Dua aspek itulah yang akan sanggup mempertahankan keutuhan dan kesatuan dalam suatu komunitas. Sebaliknya bila egoisme, megalomania, anti loyalitas dan berbagai dimensi kesombongan lainnya masih menempel di hati setiap makmum, maka sholat berjamaah kita tidak akan membawa pengaruh apa-apa. Bila virus ini menimpa para imam, maka rekonstruksi peradaban menuju masyarakat islam sejati akan mati suri. Masjid menjadi sepi dan dijauhi ummat. Meskipun kadang-kadang kelihatan ramai, maka ia kosong dari ubudiyah dan ukhuwah. Yang ada kemudian keramaian semu, berisi konfrontasi, saling mendzalimi, saling teror. Masjid kita terluka, cahayanya redup dan hampa.
            Maka menjadi amat urgen sekarang ini untuk meningkatkan kualitas imam di masjid-masjid kita. Sudah saatnya kembali secara total kepada petunjuk Rasulullah SAW. dalam memilih hanya yang terbaik untuk menjadi imam kita, sebagaimana hadits riwayat Muslim: “Hendaklah yang menjadi imam adalah yang paling ahli tentang al-Qur’an, bila mereka sama dalam keilmuannya tentang al-Qur’an, maka yang paling faham Sunnah, bila sama dalam perkara Sunnah, maka yang lebih dahulu hijrah, apabila bersamaan dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk islam. Tidak boleh seseorang mengimami orang lain di daerah yang mereka kuasai”
            Perlu dicatat bahwa pemahaman terhadap al-Qur’an dan Sunnah dalam konteks ini tidak hanya sebatas wawasan keilmuan, tapi lebih sebagai sikap dan watak. Maka yang menjadi imam adalah yang paling wara’ (menjaga diri dari yang subhat apalagi yang haram), yang paling zuhud (berorientasi akhirat dan tidak materialis sama sekali), paling takwa, dan paling baik akhlaknya. Singkatnya pada diri imam, secara kasat mata kita melihat keteladanan, memiliki kompetensi intelektual yang mumpuni, dan integritas moral yang absolut. Dengan paradigma ini, maka para imam di masjid-masjid kita sangat perlu difasilitasi untuk meningkatkan kapasitas keilmuannya melalui pelatihan-palatihan, workshop, dauroh, dan sejenisnya secara berkelanjutan.
            Departemen Agama tingkat kabupaten melalui divisi yang membidangi hal ini perlu mengagendakan ini secara serius untuk kepentingan jangka panjang. Pada saat yang bersamaan harus muncul inisiatif kemajuan ilmiah dari diri para imam, dan kontrol yang mutualistik dari para jamaah, dengan memperbanyak acara diskusi tentang perkara-perkara agama, mengundang ustadz-ustadz yang kompeten sebagai nara sumber. Bukannya sibuk membuat isu-isu murahan dan  membicarakan agenda-agenda politik. Mengisi masjid dengan ritual-ritual berbasis tradisi.
            Maka wahai para imam dan seluruh kaum muslimin, inilah saatnya bertanya kepada diri sendiri untuk menjawab pertanyaan ini: “apa tujuan saya memasuki masjid?, sudahkan tujuan saya ini selaras dengan kehendak syariat, yaitu kehendak Allah dan Rasul-Nya?  bila kita mampu memberi jawaban jujur atas pertanyaan di atas, maka harapan mengembalikan kejayaan masjid, dan kejayaan ummat masih sangat besar. Wallahu A’lam
Penulis
Adalah guru  SMA NEGERI 1 Empang